Why So Serious?

Seseorang(?) bercerita, “Ketika dalam perjalanan menuju Yaman, aku bertemu dengan seorang anak laki-laki yang sedang berdiri di jalan sambil mengagungkan Tuhannya dengan melantunkan beberapa bait syair. Lantas, aku mendekati anak itu dan memberinya salam.” Lantas dijawab, “Aku tidak akan menjawab salam Anda hingga Anda memberikan hakku yang menjadi kewajiban Anda.” Aku bertanya, “Apa hakmu itu?” Anak itu menjawab, “Aku seorang anak yang mengikuti ajaran Nabi Ibrahim al-Khalil. Setiap hari, aku tidak akan makan siang dan tidak pula makan malam, hingga aku berjalan sejauh satu atau dua mil untuk mencari tamu.” Maka, aku pun memenuhi ajakan anak tersebut untuk menjadi tamunya. Dengan senang hati ia mempersilahkanku dan berdua kamu berjalan menuju kemahnya. Ketika telah mendekati kemahnya, anak itu berteriak dengan suara keras, “Kakak!” Lalu suara seorang gadis dari dalam kemah menyahut, “Ya!” Anak itu berkata, “Siapkanlah hidangan untuk tamu kita ini.” Gadis itu berkata, “Bersabarlah! Hingga aku selesai bersyukur kepada Allah yang telah mendatangkan tamu kita ini.” Lalu ia pun melakukan shalat syukur dua rakaat. Setelah itu, anak tersebut memintaku untuk memasuki kemahnya dan mempersilahkankua untuk duduk. Lantas, ia mengambil pisau dan kambing muda untuk dipotongnya. Ketika aku telah duduk, aku pun memandang ke arah gadis tersebut, yang ternyata memiliki wajah yang sangat cantik. Aku pun berkali-kali mencuri pandang hingga terkesima beberapa saat. Gadis itu lalu berkata kepadaku, “Hentikan! Tidaklah Anda tahu bahwa telah diriwayatkan dari Shahibu Yatsrib (yakni, Rasulullah) bahwa zina kedua mata adalah memandang apa yang dilarang? Aku tidaklah mencela Anda melainkan bermaksud memberi pengertian agar Anda tidak melakukan seperti itu lagi.”

Ketika waktu tidur tiba, aku dan anak itu bermalam di luar kemah, sedangkan si gadis tetap berada di dalam kemah. Malam itu, aku mendengar bacaan al-Qur’an dengan suara sangat merdu dan lembut, sepanjang malam. Pada pagi harinya aku bertanya, “Suara siapakah tadi malam itu?” Anak itu menjawab, “Itu suara kakakku. Ia senantiasa menghidupkan malamnya hingga pagi dengan ibadah.” Aku berkata, “Hai anak muda, sebenarnya engkau lebih utama untuk melakukan hal itu daripada kakakmu. Engkau seorang laki-laki sementara ia perempuan.” Anak itu pun tersenyum.

Apa sebenarnya ‘makna’ di balik senyum anak itu?

Related posts:

  1. Antara Aku dan Dia Hanyalah Berbeda Satu Hari
  2. Siapa Membeli Kucing Ini?
  3. Anda Punya Kehebatan?
  4. Gamis itu Bagiku Lebih Berat Daripada Membunuh Abdullah
  5. Tidak Punya Harta yang Dapat Aku Wariskan
  6. Tidak Ada yang Lebih Baik Daripada Manusia
  7. Karamah Saad bin Abi Waqash
  8. Karamah Khubaib bin Adi dan Sahabatnya
  9. Perempuan Ini Benar dan Lak-Laki Itu Salah
  10. Takut Riya’



^___^



Just so you know, I spare no expense when I celebrate. — Joan Wilder

Leave a Reply


Ā© Ū²Ū°Ū°Ū¹ – Ū²Ū°Ū±Ū° Aya Aya Wae...